Penelitian WHO: Banyak Produk Pangan di Indonesia Mengandung Lemak Trans Melebihi Rekomendasi

0

Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengumumkan penelitian terbaru terkait 130 produk pangan seperti kue, biskuit, roti, mi goreng, dan gorengan di Indonesia. WHO menyebut bahwa konsumsi lemak trans dalam panganan yang diolah dapat meningkatkan risiko penyakit serangan jantung dan berkontribusi terhadap sekitar 500.000 kematian akibat penyakit jantung koroner secara global per tahun. Diharapkan melalui publikasi ini dapat mendukung Indonesia mengeliminasi lemak trans.

Team Lead NCDs and Healthier Population, WHO Indonesia dr Lubna Bhatti mengungkapkan, pola makan yang tidak sehat termasuk asupan asam lemak trans menempati peringkat ketiga penyebab kematian karena penyakit tidak menular. Selain itu, tren obesitas juga dikhawatirkan lebih tinggi terjadi pada generasi masa depan. Kondisi ini kata dia, dapat memperberat beban kesehatan yang akan datang.

Jawaban Soal, Apa 3 Tantangan Paling Sulit yang akan Anda Hadapi dalam Melakukan Perubahan Tersebut? Kunci Jawaban Post Test Modul 6 Dimensi Bernalar Kritis, Profil Pelajar Pancasila Kurikulum Merdeka Lirik Sholawat Walisongo Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim, Sholawat Populer Viral di TikTok

"Begitu penting bagi kita untuk mengambil tindakan sekarang untuk memikirkan cara dan bergerak melalui kebijakan untuk menghilangkan iklan lemak trans yang diproduksi secara industri," ungkap dr Lubna Bhatti dalam kegiatan WHO yang disiarkan secara daring di Jakarta, Senin (6/5/2024). Peneliti dari SEAFAST ITB Prof Didah Nur Faridah memaparkan, penelitian yang dilakukan di 3 kota ini menemukan 8,5 persen atau 11 dari 130 produk mengandung lebih dari asam lemak trans lebih dari 2 persen, yang artinya melebihi rekomendasi WHO. Kandungan lemak trans lebih dari 2 persen ditemukan pada produk produk yang banyak dikonsumsi seperti biskuit, wafer, cake, produk bakery (produksi dalam negeri dan impor), dan jajanan kaki lima seperti martabak dan roti Maryam.

"Kandungan lemak trans lebih dari 2 juga ditemukan pada bahan bahan yang umum digunakan untuk produksi produk bakery, yaitu baking fats dan shortening (produksi dalam negeri dan impor)," jelas Prof Didah. Ia mengatakan, telah banyak riset yang membuktikan dampak buruk konsumsi asam lemak trans terhadap kesehatan. Hasil kajian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pemerintah dalam menentukan arah kebijakan eliminasi asam lemak trans seperti yang direkomendasi oleh WHO.

"Mari kita bersama sama mewujudkan Indonesia lebih sehat," kata dia. Wamenkes RI dr. Dante Saksono Harbuwono menambahkan, melihat negara Denmark sebagai negara pertama melarang asam lemak trans pada industri membuat angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah turun sebesar 20 persen. "Kenapa begitu? karena kita tahu lemak trans Ini menghasilkan produk yang tidak baik yaitu membuat peningkatan LDL (kolestrol jahat) yang akan menyebabkan timbulnya plaks dan plaks ini akan menimbulkan sumbatan di sistem koroner dan sumbatan di sistem koroner ini akan menyebabkan serangan jantung," jelas Prof Dante.

Kesuksesan Denmark ini menjadi pelajaran bagi berbagai negara membatasi atau melarang lemak trans dapat menurun dan menyebabkan penyakit jantung. Selain jantung, lemak trans juga dapat mengakibatkan diabetes dan kanker. Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.